Periodic Table of the Elements (Mendeleev's table)

Rabu, 20 Maret 2013

KEKOMPAKAN REGU KUDA TERBANG



Kekompakan Regu Kuda Terbang
Karya Sigit W.
            Namaku Sigit aku adalah murid kelas 8 SMP di Karangmojo. Aku adalah orang yang tidak terlalu pandai untuk bergaul, namun suatu peristiwa menyadarkanku arti suatu ikatan persahabatan. Peristiwa ini berawal ketika aku pulang sekolah seperti biasa.
            Di kelas pada siang hari “Eh rid, ayo kita pulang. Bentar lagi sholat jum’at nih, nanti juga ada Pramuka kan?” Ajakku kepada Farid salah seorang teman baikku
            “Oh aku nggak pulang git. Aku sholat jum’at disini, lagi pula aku juga udah bawa seragam pramuka.” Jawabnya
            “Ya udah, aku pulang dulu, sampai nanti...” Sahutku sambil meninggalkan kelas. Aku pun bergegas pulang ke rumah dengan sepeda motor setiaku. Sebelum pulang aku sempat singgah ke sebuah masjid untuk  sholat jumat. Yah maklum karena rumahku lumayan jauh dari masjid sih, dari pada sibuk mondar-mandir mending sekalian aja kan? “Kok udaranya panas ya? Bikin males aja.” Batinku sambil bergegas menata peralatan untuk pramuka nanti. 
            Tak lama setelah aku tiba kembali, kegiatan pramuka pun dimulai. Setelah upacara pembukaan usai, kami diperintahkan oleh pembina agar membuat sebuah regu dengan beranggotakan 10 orang lengkap dengan kepengurusannya. Aku nggak terlalu ambil pusing sih, tapi tentunya aku  bergabung dengan perkumpulan teman sekelasku, tapi sayangnya anggota kami hanya berempat.
“Kita sebaiknya bergegas mencari anggota lain nih, buruan sebelum kita yang harus melengkapi regu yang lain, tapi kita nggak boleh sembarangan memilih.” Saran Alan salah satu teman sekelasku.
            Bekti teman sekelasku pun ambil bicara. “Tenang aja semua, nanti kalau ada regu yang kekurangan anggota akan dicarikan sama DP (Dewan Penggalang) kok.”
            “Semoga begitu deh” Jawab Alan dengan cemas
            Ternyata banyak juga tiap-tiap orang masuk regu kami. Setelah anggota bertambah regu kami akhirnya berjumlah 9 orang. Mereka adalah : Aji,Alan,Bekti,Farid,Hasan,Ikhsan,Rafy,Riski, dan aku sendiri tentunya. Namun aku merasa tidak nyaman seregu dengan anggota tambahan tersebut. Aku berfikir mereka adalah orang yang egois, itu terlihat dari raut wajah mereka yang tidak ada semangat sama sekali, walaupun sesekali mereka bergurau ria. Namun aku tak pernah suka dengan candaan mereka, bagiku itu malah menyakitkanku. Setelah semua anggota telah berkumpul menjadi regu, kini pembina memerintahkan untuk menamai regu tersebut serta yel-yel pula. Kami pun langsung berdiskusi untuk menamai regu kami. Usulan kami bermacam-macam, ada yang mengusulkan naga,harimau,elang,kalajengking,kobra,dll.
            Namun Alan mengusulkan pendapat yang menarik. “Bagaimana regu kita bermana Kuda Terbang?”

            “Nama yang lumayan unik. Sepertinya bagus, nama itu jarang dipakai juga kan?. Hey kalian (Ikhsan,Riski, dan Aji) gimana pendapat kalian?” Tanyaku kepada mereka.
            “Terserah kalian sajalah, kami kan cuma ngikut aja.” Sahut mereka bertiga
            Aku pun geram mendengar jawaban mereka, sepertinya mereka tidak menghargai teman-teman sekelasku.
            “sudah-sudah kawan, kayaknya  semua udah jelas deh. Baiklah kini regu kita bernama Kuda Terbang, dan ketuanya Alan serta Sigit sebagai wakilnya.” Simpulan Farid demi mencairkan suasana. Aku sebenarnya sungkan menerima kedudukan tersebut, namun apa daya karena demi regu kami aku rela menjadi wakil ketua.
            Hari demi hari pun bergulir, tak terasa kegiatan pramuka sudah berjalan 1 bulan. Banyak materi yang telah diajarkan, ada cara membuat dragbar,mendirikan tenda,mengenali sandi morse, dan tali temali. Ternyata tujuan itu semua untuk seluruh siswa kelas 8 dalam menjalani perkemahan Candra Dimuka yang tidak lama lagi akan dilaksanakan. Sebagian regu kami semangatnya terbangun mendengar hal tersebut. Saatnya setiap regu harus bersiap-siap menyiapkan barang-barang untuk perkemahan. Regu kami mulai membuat gapura untuk pintu masuk tenda, namun pekerjaan ini hanya dikerjakan sebagian anggota. Aku jadi mulai ragu dengan mereka. Dan aku mulai acuh dengan mereka juga.
            Di rumahku aku dan Rafy saling bercerita sambil membuat gapura “ya biar sajalah, kapan-kapan aku bakal ngajak mereka bertiga kerja buat pagar tenda.” Kata Rafy
“Ide yang bagus.” Sahutku
Namun esok harinya entah ada makhluk gaib apa yang telah merasukinya. Mereka datang kerumahku dan mencoba untuk membantuku membereskan pekerjaan ini. Tak kusangka mereka punya niatan juga untuk bekerja. Kali ini aku merasa berbalik salut kepada mereka, semoga mereka konsisten seperti ini. Tak lama beberapa hari berlalu akhirnya semua persiapan telah selesai tepat pada waktunya. Esoknya kami siap untuk mengikuti perkemahan Candra Dimuka. Kegiatan pertama kami diawali dari apel pagi dengan breefing selama berkemah dikawasan tersebut. Setelah apel pemberangkatan dimulai kami pun berkumpul dan berdoa. Alan pun menyemangati dengan mengatakan yel-yel bersama.
“Kuda Terbangggg!!!....”
“Meluncurrrrr....” kami meneriakkan yel-yel kami.
Semua telah memasuki truk. Semangat terlihat pada wajah yang ceria bersemi disela-sela rasa penasaran kami, namun ditengah rasa kehangatan persahabatan ini, tiba-tiba mataku melihat seorang gadis yang nampak murung sambil melihat pemandangan disepanjang jalan. Aku terpesona melihat wajahnya nan anggun, serasa aku ingin mendekatinya dan berbincang-bincang dengan dirinya, tapi kaki ini seakan terpaku dan tidak berani mendekati dirinya. Kenapa aku baru sadar kalau ada wanita cantik sekolah di SMPku. Kemana saja aku selama ini? Tak apalah mungkin bukan jodohku. Pikiran konyolku serasa terus menghinggapi seluruh jalan pemikiran.
“Ah sudahlah, mungkin suatu saat aku bisa mendekati dirinya.”  Kata-kata dalam renunganku
“hey kenapa kau kawan, marilah kita nikmati perjalanan ini, ya kan sobat?”
“Yoi Riddd...” ajakan kawan-kawanku.
“Iya, maaf udah buat kalian merasa penasaran atas sikapku.”
“Tak apalah kita kan teman.” Jawab mereka
Udara kembali berhembus kencang, angin-angin seakan menyerap panas terik matahari yang menyinari sekujur tubuh kami. Tak lama sebelum kami mencapai bumi perkemahan Rafy dan Alan merasakan hal-hal yang janggal didaerah Paliyan tempat kami akan berkemah.
“Hawanya telah berbeda dari sebelumnya, sebaiknya kita harus jaga perilaku kita. Adakah yang merasa sama seperti aku?” Tanya Rafy
“Benar, semoga tak terjadi apa-apa, asalkan kita tidak berbuat yang tak seharusnya dilakukan.” Nasehat Alan
Aku tak tau apa maksud ucapannya tersebut. Ah kita semua masih anak kecil, tau apa? Tak terasa kami pun tiba di Bumi Perkemahan Paliyan. Sekarang waktunya kami  menurunkan barang bawaan dari truk lalu bersih-bersih tempat yang akan didirikan tenda. Aku yang menyapu diareal tenda, sedangkan yang lain mendirikan tenda. Kulihat ketelatenan mereka mendirikan tenda, kini aku yakin mereka telah berubah menjadi orang yang lebih peduli.
Setelah semua siap, semua regu menjalani upacara pembukaan perkemahan. Tak kuduga sore menjelang. Aku bergegas mandi, jika aku kebagian mandi agak malam pasti suasananya menyeramkan. Sudah terlihat dari kamar mandi tersebut.
“Kawan-kawan ayo lekas mandi, kamar mandinya kurang bersahabat nih.” Ajakku
“Okee.” Jawab mereka riang
Matahari telah beranjak diufuk barat. Langit pun menjadi gelap, serta bulan dan bintang Menerangi dinginnya malam. Saatnya melangkah menuju  kegiatan berikutnya.Semua tegang menunggu pemberangkatan pada jurit malam. Sebelum itu kami diberi pertanyaan oleh pembina dengan sandi morse, regu kami pun menjawabnya dengan sempurna berkat kerjasama yang kompak. Akhirnya saat-saat yang kita tunggu telah tiba pemberangkatan dimulai dari regu Kalajengking. Setelah lama menunggu waktunya giliran kami meluncur, jantung berderap cepat dan keringat bercucuran. Regu kami berdoa terlebih dulu supaya selamat dalam perjalanan. Perjalanan regu kami pun dimulai kami harus melewati areal sawah yang rimbun dengan senter untuk menerobos kegelapan. Reguku mengadakan taktik agar kita selalu bersama dengan cara menggabungkan tongkat bersama antara depan dan belakang. Kami mendapati sebuah pita hijau yang diikat disebuah dahan pohon, jadi artinya kita harus berjalan terus.
“Hey kawan-kawan, kalian ketakutan atau tidak?” Tanyaku gelisah
“Tak apa asalkan kita jangan melepaskan tongkat kita masing-masing, tetap tenang semua.” Jawab Alan
Kami pun melewati sebuah lapangan dengan suasana yang hening dan gelap gulita, Setelah kami melewatinya kami mendengar suara Dewan Penggalang dibalik rerumputan yang memerintahkan regu kami untuk mematikan senter agar regu lain tidak melacak kami dan berhenti sejenak menunggu regu yang didepan kami beranjak.
“Ahh lama sekali, udah nunggu hampir 1 jam nih, emang didepan ada apa?” Keluhan Aji
“Au juga enggak tau, udah hampir tengah malem nih.” Susul Farid
Ternyata mereka diberi teka-teki dipost pertama. Usai melewati teka-teki, kami harus menjawab pertanyaan tersebut dipost kedua. Aku dan kawan-kawan terus memecahkan tiap-tiap jalan yang harus kami lewati untuk mencapai post kedua. Aku tercengang pada post ini, karena lokasinya berada dikompleks pemakaman. Untungnya pemakaman ini dekat pemukiman warga, hal ini dapat menyurutkan rasa takut sedikit. Ternyata kami harus mencari nisan yang namanya ditentukan oleh Dewan Penggalang. Kami dapat melewatinya meskipun ada rasa takut yang menghantui.
“Hiii, untung selesai.” Ucap Bekti lega
Post berikutnya kami diberi teka-teki kembali dan menjawab dipost berikutnya. Sebelum mencapai post 4, kami melewati jembatan yang rasanya suram, kami bergegas berjalan keseberang jembatan dengan cepat. Terlihat sebuah gubuk kecil dan didalamnya ada 2 Dewan Penggalang yang berpura-pura tidur. Kami tertawa melihat kepalsuan tersebut, mereka tak pandai berakting. Haha kami pun meneruskan perjalanan. Pada post 4 kami menjawab teka-teki lalu diperbolehkan lewat. Jalannya turun tajam lalu menaiki tanjakan yang licin. Akhirnya post terakhir regu kami diperbolehkan ketenda. Ternyata jalanan itu menuju tempat pemberangatan kami, setelah sampai ditenda kami menceritakan kejadian selama jurit malam kepada regu lain yang telah sampai duluan.
Pagi buta telah tiba, dinginnya udara sampai-sampai seakan menusuk ketulang. Kegiatan hari kedua berlanjut mulai dari jalan sehat,senam pagi,dll. Sore harinya kami mengadakan permainan. Semuanya sangat asik tak terasa waktu istirahat sore telah tiba. Malam harinya semua mengadakan upacara api unggun dan pentas seni dikarenakan siang harinya kami pulang menuju sekolah kembali. Pada upacara api unggun aku tiba-tiba terpaku melihat gadis yang kulihat waktu berada ditruk. Seandainya aku bisa bersama dirinya, tapi hati ini serasa hancur mengetahui ternyata dia telah memiliki seorang pacar. Pada pentas seni aku hanya terdiam dan tak mampu berfikir lebih panjang lagi, bahkan perkataan kawan-kawanku sekali pun tak ku gubris. Tak kusangka dia tampil dipentas seni. Aku hanya bisa pergi keluar areal perkemahan, tak akan kupedulikan apa yang akan terjadi pada diriku nantinya. Dijalan aku mendengar suara-suara burung hantu dan suara misterius lainnya. Aku tidak terlalu takut karena kehancuran hati ini telah dalam. Aku meneruskan perjalanan dan berhenti disebuah lapangan. Aku ingat kata-kata Alan agar berhati-hati dalam bertindak. Dari belakang ada sesosok wanita mengenakan baju putih dan rambut yang panjang menutupi mukanya. Aku pun lari terbirit-birit.
“Ya Allah selamatkan aku, aku tak akan mengambil keputusan semena-mena lagi.” Teriakku disepanjang jalan
Tiba-tiba aku menabrak seseorang.
“Ampun! Aku akan kembali tolong jangan hantui aku!!!”
“Sigit, kamu kemana aja? Seluruh perkemahan mencari kamu!” Tanya Farid dan diikuti teman-teman
“Engga aku hanya ingin menyendiri aja, maaf aku telah meminggalkan kalian dan membuat kalian cemas.” Sesalku
“Sekali lagi aku katakan kepadamu git, tak usah minta maaf kepada kami, karena tentunya kami akan memaafkan, kita kan kawan Kuda Terbang bukan?” Perkataan teman-teman dengan wajah ceria
“Tentu saja, terima kasih kawan semua.” Aku pun merasa terharu.
“Apa pentingnya seorang perempuan yang ku sukai tapi belum mengetahui tingkah lakunya jika ada banyak kawan sejati yang selalu setia menemani kawan lainnya yang sedeng merasa terbebani dan mencari jalan terbaik bagi temannya tersebut. Aku sangat beruntuk memiliki kawan seperti kalian.” Kesimpulanku didalam pikiran sambil memasuki gapura perkemahan.
“Ayo Git kita tampilkan pentas seni kita. Semua ayooo.. Kuda Terbangggggg meluncurrrr!!!’” Ajak Hasan
Kami menampilan 2 lagu dari Bondan Prakoso & Fade 2 Black yaitu Yasudahlah dan Not With Me untuk melepaskan beban dihati. Inilah arti sahabat sebenarnya terima kasih banyak semua.
Akhirnya kami harus kembali ketempat kami berasal tapi sebelum pulang, semua melaksanakan upacara penutupan dan menyebutkan juara keseluruhan dari kekompakan regu. Ternyata kekompakan kami membuahkan hasil juga. Kami meraih juara kedua sedangkan juara pertama adalah Regu Garuda Dewan Penggalang. Yah kita harap maklum mereka memang hebat sekaligus membimbing kami juga. Aku bangga pada kekompakan regu kami, sekian kisah dari penulis. Kuda Terbanggggggg meluncurrrrrrr!!!!! TAMAT







           


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar